sumber : tabloid-nakita
Tak sedikit orang tua yang belum tahu cara memotivasi anak agar menyenangi saat-saat “belajar”. Akibatnya, si kecil pun stres atau bahkan takut “sekolah”. Nah, agar kita bisa memotivasi si kecil secara tepat, kata Silvi Octavia Wijaya, S.Pd., Kepala Trainer dari Universal Megabrain Center (UMC), di acara Ibu Bayi dan Balita tayangan ANteve, kerja sama tabloid nakita dengan PT Endrass Perdana, “diperlukan suatu metode belajar yang baik hingga anak tak merasa terbebani.”
Namun sebelum kita sampai pada metode belajar, perlu diketahui dulu bahwa ada 3 tipe belajar, yaitu visualisasi, auditory, dan kinestetik. Pada tipe visualisasi, terang Dipl. Ing. Iwan Sugiarto, pimpinan UMC, anak lebih senang belajar dengan membaca sendiri; tipe auditori, anak akan senang bila ada orang lain yang menceritakan sesuatu kepadanya dan ia mendengarkan; tipe kinestetik, anak butuh gerakan dalam belajar, misal, selalu berpindah-pindah tempat atau ketika membaca selalu menggerakkan tangannya, dan lainnya.
“Pada tipe terakhir, bagi orang yang tak mengerti mungkin akan pusing dengan cara belajar anak yang seperti ini. Itu sebab, orang tua harus menyadari dulu bahwa tanpa pergerakan itu, anak justru sulit belajar,” tutur Iwan.
Di UMC, lanjutnya, ada beberapa teknik utama yang diberikan pada anak-anak usia balita agar senang belajar. Pertama, teknik visualisasi. “Pada teknik ini, kami mengajari anak untuk mengingat objek dalam jumlah banyak dengan cara memvisualisasikan di dalam kepalanya.” Kemudian di teknik kedua, berpikir linier atau satu arah, “misal, jika disebutkan kata ‘buku’, anak dengan sendirinya langsung berpikir ke satu objek yang sangat berhubungan dengan buku seperti pensil.” Di teknik ketiga, berpikir memancar, “anak diminta menyebutkan berbagai hal yang ada kaitannya dengan sesuatu objek.” Misal, kita menyebutkan satu kata “anjing”. Nah, si kecil menyebutkan sejumlah hal yang berkaitan dengan anjing seperti tulang, dalmatian, Goofie, dan seterusnya. Terakhir, teknik bermain kreativitas.
Dengan teknik-teknik tersebut, bilang Iwan, anak bisa mengembangkan kedua belahan otaknya. “Jadi, bukan cuma otak kiri yang dioptimalkan sebagaimana yang terjadi selama ini, melainkan juga otak kanannya ikut dioptimalkan.”


