sumber :Dedeh Kurniasih. NAKITA
Melihat perut bayi yang buncit, kadang geli kadang ngeri. Dari mana kita tahu bahwa itu normal?
Selama ini ada tradisi turun-temurun yang dilakukan para orangtua untuk memakaikan gurita pada perut bayinya, terutama pada bayi baru lahir. Alasannya, otot perut bayi yang masih lemah harus disangga agar nantinya berbentuk bagus tak seperti perut katak. Apa iya perut bayi umumnya memang besar dan harus dipakaikan gurita agar bagus? Bagaimana pula membedakannya dengan perut buncit yang masuk kategori tidak normal?
DORONGAN ORGAN DALAM
Sejak janin, organ-organ tubuh terus berkembang sampai tiba saatnya dilahirkan, termasuk hati, limpa, usus, dan organ lainnya. Sementara ruang untuk tempat tumbuh organ-organ tersebut masih sangat terbatas. Tak heran kalau pada beberapa bayi sering terjadi tekanan yang sedemikian tinggi dalam rongga perutnya. Akibatnya, umbilikus-nya tidak menutup hingga pusarnya tampak bodong.
Selain itu, bagian kulit, maupun lemak dan dinding otot perut bayi masih relatif tipis dan lemah. Sedangkan muatan organ tubuh di dalamnya relatif banyak, sehingga belum mampu menahan dorongan organ-organ yang berada dalam rongga perut, terutama usus. Inilah yang membuat perut bayi tampak besar dan melebar seperti perut katak.
Sebetulnya, bila perut si kecil seperti itu normal-normal saja, kok. Jadi, tak perlu dibentuk-bentuk lagi secara khusus dengan pemakaian gurita. Seiring dengan bertambahnya usia bayi, pertum-buhan kulit dan lemak perutnya kian menebal. Demikian pula dengan otot perut yang terbentuk semakin kokoh dan lebih mampu menahan daya dorong dari organ-organ yang berada dalam rongga perut. Sementara volume ruang perut bayi juga berkembang tambah luas. Itulah mengapa perut bayi tak lagi terlihat buncit.
Lalu bagaimana membedakan perut bayi yang besar namun normal dengan yang tidak? Pada perut bayi yang besar tak normal, selain dari bentuknya, akan ditemui juga gejala tertentu. Ketidaknormalan ini dapat disebabkan:
* Kolestasis/Sumbatan saluran empedu
Gejala klinisnya antara lain air seni yang berwarna cokelat atau kuning tua dan tinjanya ber-warna pucat atau putih. Jika kondisinya sudah parah, perut tampak sedemikian membesar. Bahkan bila ditekan, pada bagian iga kanan sebelah atas akan terasa agak keras. Dalam kondisi seperti ini biasanya sudah terjadi asites, yakni keluarnya cairan ke rongga perut. Tak heran kalau bagian perut agak diketuk-ketuk dengan jari tangan akan terdengar seperti gelombang cairan. Sementara jika dilihat dengan USG akan tampak cairan di dalamnya. Kolestasis dapat terjadi pada bayi di bawah usia 12 bulan. Oleh kalangan awam, kolestasis pada bayi sering diistilahkan sebagai bayi kuning akibat tingginya kadar bilirubin/pigmen empedu.
Secara garis besar, kolestasis dibedakan menjadi dua, yaitu:
- Kolestasis akibat kelainan di dalam hati. Penyebabnya, bisa infeksi dan bisa juga noninfeksi.
- Kolestasis akibat kelainan di luar hati. Penyebabnya karena adanya gangguan pada saluran empedu/atresia ataupun kista di saluran empedu.
Kolestasis pada bayi dapat menyebabkan aliran “pembuangan limbah” tubuh jadi terganggu. Soalnya, semua bahan toksik yang seharusnya dibuang/dikeluarkan dari tubuh oleh hati dan saluran empedu menjadi terganggu. Akibatnya, bahan limbah tadi justru akan menumpuk di dalam hati. Padahal, sebagian besar bahan toksik ini jelas-jelas bersifat meracuni dan merusak sel-sel hati. Lama-kelamaan hati akan mengalami kerusakan parah yang disebut sirosis. Dalam kondisi seperti ini hati akan menciut, keras, dan tak lagi mampu menjalankan fungsinya yang sangat vital dalam kehidupan.
Mengenai penanganannya tentu tergantung dari penyebabnya. Yang noninfeksi biasanya dapat sembuh dengan sendirinya seiring dengan berjalannya waktu. Namun ada juga yang membutuhkan tindakan bedah seperti pada atresia empedu.
* Rhesus inkompabilitas
Adanya ketidakcocokan antara darah ibu dengan bayi umumnya terjadi pada ibu yang memiliki golongan darah O dengan rhesus negatif. Akan tetapi kondisi ini seharusnya sudah dapat dideteksi sejak dalam kandungan. Penyakit akibat perbedaan rhesus ini disebut hemolytic disease of the newborn atau erythro blastosis tetalis yang bisa juga terjadi pada janin. Adanya perbedaan rhesus membuat sel darah merah bayi mudah pecah dan hancur oleh zat antibodi ibunya.
Bayi yang menderita penyakit ini antara lain akan memperlihatkan gejala khas:
- Kulit tubuhnya cenderung kuning sekali.
- Jika kondisinya berat, perut dan juga bagian tubuh lainnya tampak bengkak.
Bila kadar kuningnya masih tergolong ringan untuk mengatasinya hanya perlu terapi sinar. Sedangkan jika sudah tergolong berat perlu dilakukan transfusi penggantian darah.
* Tumor/teratoma
Meski jarang ditemui, tapi kasus seperti ini bisa saja terjadi. Untuk penanganan tumor biasanya dilakukan melalui tindakan bedah. Adanya tumor dalam rongga perut bisa dilihat dengan USG, selain dapat diketahui lewat gejala berikut:
- Perut tampak membesar/buncit yang bisa saja terjadi secara tiba-tiba. Dalam kasus seperti ini, ukuran perut umumnya lebih besar dari bentuk perut “katak” bayi.
- Bayi tampak pucat dan kurus.
- Jika diraba, perutnya terasa keras padahal seharusnya perut yang normal terasa agak lembek dan lentur saat ditekan.
- Ada kecenderungan sulit buang air besar. Soalnya, tumor dalam perut dapat menekan usus yang menyebabkan si bayi sulit buang air besar. Tumor dalam perut anak antara lain tumor ginjal (Wilm’s Tumor) dan teratoma yang ada sejak janin dalam kandungan.
* Kelainan di usus besar/Hirschsprung
Kelainan yang satu ini umumnya sudah dapat diketahui sejak dalam kandungan. Pada bayi biasanya terlihat di bawah usia setahun dengan ciri-ciri perut tampak besar dan kembung serta mengalami sulit buang air besar. Hal ini disebabkan oleh adanya kelainan di usus besar, yakni tidak adanya persarafan yang mengatur pergerakan usus sehingga makanan yang masuk tak bisa keluar menuju anus. Akibatnya, kotoran akan menumpuk dan menyumbat usus bagian bawah sehingga bayi tak bisa buang air besar. Untuk memban-tu mengatasinya, mau tidak mau akan dilakukan tindakan operasi.
TAK PERLU PAKAI GURITA
Secara medis pemakaian gurita pada bayi tidak dianjurkan karena justru bisa mendatangkan kerugian, di antaranya:
- Volume ruang perut bayi masih kecil. Tekanan akibat ikatan gurita membuat perkembangan organ bagian dalam agak tertahan.
- Tekanan perut jadi tinggi yang selanjutnya dapat menekan titik-titik lemah seperti di pusar dan di daerah hernia dekat paha kanan-kiri.
- Jika ikatannya terlalu kuat akan menekan bagian diafragma yang memicu bayi jadi gampang muntah.
- Bayi merasa kepanasan dan berkeringat yang memicu munculnya biang keringat pada daerah yang dipakaikan gurita.
- Dapat mengganggu gerak pernapasan bayi karena bayi masih menggunakan pernapasan perut.


