Feb 17

sumber: republika

Kenalilah obat dan makanan yang kita asup.

Sakit kepala Anita menjadi-jadi. Namun, ia memaksakan diri menunggu perhentian bus. Padahal dalam tasnya selalu tersedia obat-obatan. ”Tapi, saya lupa bawa air putih. Yang ada cuma sebotol minuman berenergi,” ungkapnya tentang pengalaman perjalanan pulang kampungnya setahun lalu.

Waktu itu ia tak mau ambil risiko menenggak obat dengan minuman bekalnya. Ia khawatir terjadi reaksi yang bisa membahayakan tubuhnya.
Bentrok antara makanan dan obat kita asup? Bisa saja.
Di AS Food and Drug Administration (FDA), lembaga pengawas keamanan obat dan pangan, membuat daftar sejumlah obat tak boleh dimakan berbarengan dengan konsumsi makan dan minum tertentu. Dengan begitu, masyarakat bisa melakukan langkah-langkah pengamanan diri. Dalam daftar FDA, misalnya, disebutkan obat-obatan asma tak boleh diminum bersamaan dengan minuman dan makanan berkafein. Lembaga ini menjelaskan, paduan keduanya yang bertindak sebagai stimulan itu bisa meningkatkan efek gelisah.

Mengenali makanan
Menurut Ketua Kelompok Keahlian Farmakologi Farmasi Klinik ITB, Prof Dr Elin Yulinah Sukandar ketika dihubungi secara terpisah, ada beberapa obat yang tak boleh dibarengi makanan atau minuman tertentu.

Ambil contoh antihistamin, obat yang paling banyak digunakan untuk mengatasi seperti alergi hidung (rhinitis), gatal-gatal pada kulit, galigata (urtikaria). Obat yang memberi efek samping sedasi (rasa kantuk) ini menurut Elin tak boleh dibarengi oleh makanan dan minuman yang mengandung tanin. Misalnya, teh pekat.

”Tanin akan mengendap pada saluran pencernaan, sehingga obat akan sulit diabsorbsi,” katanya. Namun, ia menambahkan, teh encer tidak menjadi masalah bagi orang yang mengonsumsi antihistamin lantaran kadar taninnya tidak begitu tinggi. Selain pada teh pekat, tanin juga banyak terdapat pada buah-buahan yang berasa sepat, seperti salak dan sawo.

Obat lain yang banyak dikonsumsi adalah obat diuretik. Obat ini dapat memperlancar pengeluaran air seni, digunakan untuk mengontrol tekanan darah. Pada mereka yang mengonsumsi obat diuretik saluretik, Elin menyarankan agar menjauhi asupan natrium. Mengapa? Natrium akan mengurangi efek dari obat diuretik yang bertujuan untuk mengeluarkan garam dari tubuh sebagai anti hipertensi.

Natrium terbanyak terdapat pada garam dapur (natrium klorida), juga pada makanan yang asin-asin dan mengandung banyak garam seperti ikan asin. ”Pokoknya tidak boleh mengonsumsi makanan yang bisa meningkatkan kadar garam,” katanya.

Untuk obat jantung, perempuan pertama peraih The Habibie Award ini menyebutkan agar jangan dibarengi dengan asupan makanan atau minuman yang mengandung kalsium, seperti salak. Pasalnya, obat jantung akan menimbulkan kontraksi jantung, sementara kalsium justru akan mengurangi efek dari kontraksi tersebut.

Tak semua sesudah makan
Pada interaksi obat dan makanan, menurut Dr dr Purwantyastuti MSc SpFK, sebenarnya yang menjadi permasalahan berkaitan dengan waktu memakan obat. Biasanya dalam sebuah kemasan obat atau pada wadah obat yang diberikan dokter ada pernyataan, dimakan sebelum makan atau sesudah makan.

Karena itu, ia menggarisbawahi pentingnya mengerti tentang waktu makan itu. Sebab, hal tersebut berhubungan dengan penyerapan obat dalam darah. Dia kemudian memberikan ilustrasi tentang konsumsi obat antibiotik.  ”Misalnya kita membutuhkan dosis 250 miligram,” ujar Tuti, sapaan Purwantyastuti.

Lalu dalam instruksi dituliskan untuk menelan obat ini sebelum makan. Tujuannya agar perut dalam keadaan kosong sehingga kandungan obat yang terserap bisa maksimal, katakanlah sekitar 200 miligram. Tetapi jika pasien itu justru menelan obat setelah makan maka besar kemungkinan yang terserap hanya 100 atau 150 miligram saja karena terganggu dengan penyerapan makanan.

”Karena itu penting sekali untuk menanyakan pada dokter apakah obat yang diberikan dimakan sesudah makan atau sebelumnya,” tegas Tuti.
Salah satu yang harus menjadi perhatian adalah tentang obat TBC (INH atau rifamycin). Obat ini sebaiknya dikonsumsi sebelum makan. Karena fungsinya untuk membunuh kuman TBC, maka dalam perut kosong obat ini akan lebih efektif masuk ke dalam darah. ”Tapi orang Indonesia kan biasanya malah bilang, ‘udah makan belum, biar bisa cepet minum obatnya’,” katanya.

Orang Indonesia harus sadar bahwa tidak semua obat dimakan sesudah makan. Seperti obat TBC, bila dikonsumsi sehabis makan mungkin penyerapannya berkurang. Akibatnya, kemampuan membunuh kumannya tidak sempurna sehingga kuman justru jadi kuat karena sudah mengenal obat tersebut.

Terkait dengan penyerapan yang berkurang tersebut, departemen Farmokologi Fakultas Kedokteran UI tempatnya bernaung juga pernah melakukan penelitian tentang efek yang ditimbulkan ketika mengonsumsi amoxicilin dengan jus jeruk. Hasilnya, penyerapan dalam darah menjadi kurang efektif.

Atau tetraciclin yang penyerapannya terhambat jika diminum dengan susu. Tetapi hasil ini tidak bisa digeneralisasikan dengan jenis antibiotik yang lain. Meski demikian ada pula jenis bahan tertentu yang dengan perpaduan minuman bisa meningkatkan keefektifan. Seperti kalsium yang baik jika diminum bersama susu, atau dengan jus jeruk yang vitamin C nya dapat meningkatkan kalsium.

Di Indonesia, penelitian mengenai efek racun dari kombinasi obat dengan makanan atau minuman, baru akan dilakukan jika memang ada kasus-kasus spesifik yang muncul. Kasus yang terjadi juga bukan pada satu orang saja, namun dalam skala yang lebih besar. ”Penelitian itu membutuhkan dana,” ujarnya.

Sementara itu, informasi tentang penelitian ilmiah yang kini mudah diakses di internet sering membuat pembacanya salah paham. Kepada masyarakat umum, Tuti mengajak untuk bersikap kritis saat membaca penelitian itu. ”Hasil penelitian itu mungkin benar tapi uji laboratorium itu bisa berbeda dengan manusia,” tambahnya.

Namun, ahli farmakologi dari Universitas Indonesia (UI) ini mengaku selama ia belum menemukan ada kasus seseorang menderita suatu penyakit serius atau berdampak kematian saat mengonsumsi obat dengan bahan makanan atau minuman.

Incoming search terms:

Daftarkan email kamu untuk automatic update artikel terbaru :

  

Delivered by FeedBurner



Related Post :